Rabu, 11 Mei 2016

"Tamparan" Buat Ikhwan Modus

Nyindir...Ngga juga sih ya. Cuman iseng aja bikin tulisan ini.

Ngakunya ikhwan Shaleh tapi suka tebar pesona.
Modus-modus ke akhwat yang dikenalnya.
Suka tebar janji manis dan ngajak ketemuan.

HAH..? Ketemuan berdua saja dengan alasan pengen kenal deket.
Tapi Wait..wait bukannya gak boleh ya?

Ini Hadistnya :
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.”(HR. Bukhari, no. 523)

Terus ngajak pacaran, katanya sih pengen dapet pacar yang sholehah. Hah apa gak salah ucap? Cewek Sholehah mana ada yang mau pacaran sebelum Halal. Samperin kerumahnya ketemu orang tuanya dan Lamar baru tuh Cocookk

Eh,,baru ditantang begitu langsung ciut nyali,, dan langsung memberi argumen untuk pacaran islami.
Emang ada ya?? Mustahil deh..

1. Mustahil Ada Pacaran Islami
Salah seorang dai terkemuka pernah ditanya, ”Ngomong-ngomong, dulu bapak dengan ibu, maksudnya sebelum nikah, apa sempat berpacaran?”
Dengan diplomatis, si dai menjawab,”Pacaran seperti apa dulu? Kami dulu juga berpacaran, tapi berpacaran secara Islami. Lho, gimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah ngumpet berduaan. Kami juga gak pernah melakukan yang enggak-enggak, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah- berzina.

Nuansa berpikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahwa pacaran itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak berwujud. Karena berpacaran itu sendiri, dalam makna apapun yang dipahami orang-orang sekarang ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekedar melakukan nazhor (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan perancuan istilah. Istilah pacaran sudah kadong dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, jalan-jalan, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, meneggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggal di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlelu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat. (Diambil dari buku Sutra Asmara, Abu Umar Basyir)

2. Pacaran Mempengaruhi Kecintaan pada Allah
Ibnul Qayyim menjelaskan,
”Kalau orang yang sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaannya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih yang pertama. Ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu ketimbang pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa. Lebih dari itu, angan-angannya untuk selalu dekat dengan sang kekasih, lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah”.

Nah yang paling tepat dan terbaik pacaran setelah menikah
Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ »
“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.”(HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Nah untuk Ikhwan yang suka Modus-modus jangan coba cari pacar Sholehah karena gak bakal dapet :)

Selasa, 10 Mei 2016

Trauma

Kadang ketakutan itu selalu muncul dalam benak ini.
Rasa trauma akan masa lalu masih membanyangiku.
Rapuh dan luka ini masih saja membekas perih.
Seakan belum bisa membuka hati meski ada yang mencoba untuk mengetuknya.
Meski tiga tahun lebih berlalu namun rasa trauma itu masih tetap ada.



Aku takut...
Takut tiga tahun lalu terulang lagi..
Hampir empat tahun menjalani hubungan dengan psikopat yang terus membuatku menangis tiap malam.
Ancaman demi ancaman terus aku dapatkan agar aku terus bersama dia.
Mencoba lepas dari bayangnya sedikit demi sedikit namun malah kembali terjebak dalam kandang pria yang lebih gila darinya.
Menutupi semua kejahatannya dengan sandiwara-sandiwaranya.
Hingga aku kembali tersntak dan terluka kala aku melihat dia telah melakkan hubungan terlarang dengan seorang wanita.

Aku menangis...disamping psikopat itu yang memberikan vidio perselingkuhan kekasihku kala itu.
Namun dia tidak menenangkanku. Melainkan dia membentaku keras-keras bahkan mengancam menurunkanku ditengah jalan dari mobilnya.
Kala itu aku seperti orang pasrah dan mencoba kembali dengan psikopat itu. Dia kembali membangun janji untuk tak menyakitiku.
Aku memang terpaksa menjalin hubungan dengannya.
Membalas budi karena dia banyak membantuku
Dia tak akan melepaskanku sebelum aku bisa mengembalikan semua yang pernah diberikan kepadaku..


Aku sangat tersiksa dengan itu semua
Bertahun-tahun aku akhirnya bisa terlepas darinya
Meski dia selalu mengumpatku bahkan mengincapkan sumpah serapahnya terhadapku
Itu menjadikanku takut untuk membuka hati karena aku taut terulang kembali kejadian itu

Senin, 09 Mei 2016

aku bersyukur Allah masih menyayangiku

Semua ini memang takdir yang telah dituliskan Allah. Mengenal seseorang yang pernah aku anggap baik namun kenyataannya berbanding terbalik. Sering berbuat kasar dan menyakitiku. Mungkin tidak kasar secara fisik namun batin. Meninggalakan itu semua dan mengenal orang yang mampu mengobati setiap luka itu. Namun dengan berjalannya waktu kita memang harus berpisah. Ia memutuskan untuk menikah dan meninggalkanku. Kita memang berbeda. Dia tak mungkin ikut bersamaku begitu juga aku. Awalnya hati ini rapuh, menagis tentu. Dia menjalin hubungan dengan seorang wanita yang memang sudha masuk sejak pertengahan hubunganku dan dia. Dia memang siman dengannya. Jujur aku waktu itu sangat sedih,  sakit dan terluka.

Namun aku tersadar jika Allah telah memberikan yang terbaik untukku. Mendekatkan diri pada Allah serta memperbaiki segala kesalahanku. Kembali mengenakan jilbab serta tak ingin kembali menjalin pacaran sebelum menikah. Banyak dosa yang aku lakukan saat itu. Bahkan telah membawaku jauh dari Allah bahkan berniat untuk meningalkannya demi orang yang sangat aku sayangi. Namun aku kembali tersadar jika itu adalah dosa yang sangat besar dan aku bersyukur Allah masih bersamaku hingga aku tetap teguh akan pendirianku