Rabu, 24 Agustus 2016

rindu

Aku kembali merindunya. Dia kembali hadir dalam mimpi malam itu. Hingga membuka kembali luka lama. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Namun kejdian malam itu sungguh menyakitkan buatku. Hingga membuatku tersadar jika semua itu hanya sebuah dusta omonganmu.
KAu pernah bilang untuk tak menyakitiku tapi nyatanya kau kembali membuatku menangis dengan dustamu itru. aku membencimu dan sangat membencimu.

Rabu, 11 Mei 2016

"Tamparan" Buat Ikhwan Modus

Nyindir...Ngga juga sih ya. Cuman iseng aja bikin tulisan ini.

Ngakunya ikhwan Shaleh tapi suka tebar pesona.
Modus-modus ke akhwat yang dikenalnya.
Suka tebar janji manis dan ngajak ketemuan.

HAH..? Ketemuan berdua saja dengan alasan pengen kenal deket.
Tapi Wait..wait bukannya gak boleh ya?

Ini Hadistnya :
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.”(HR. Bukhari, no. 523)

Terus ngajak pacaran, katanya sih pengen dapet pacar yang sholehah. Hah apa gak salah ucap? Cewek Sholehah mana ada yang mau pacaran sebelum Halal. Samperin kerumahnya ketemu orang tuanya dan Lamar baru tuh Cocookk

Eh,,baru ditantang begitu langsung ciut nyali,, dan langsung memberi argumen untuk pacaran islami.
Emang ada ya?? Mustahil deh..

1. Mustahil Ada Pacaran Islami
Salah seorang dai terkemuka pernah ditanya, ”Ngomong-ngomong, dulu bapak dengan ibu, maksudnya sebelum nikah, apa sempat berpacaran?”
Dengan diplomatis, si dai menjawab,”Pacaran seperti apa dulu? Kami dulu juga berpacaran, tapi berpacaran secara Islami. Lho, gimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah ngumpet berduaan. Kami juga gak pernah melakukan yang enggak-enggak, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah- berzina.

Nuansa berpikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahwa pacaran itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak berwujud. Karena berpacaran itu sendiri, dalam makna apapun yang dipahami orang-orang sekarang ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekedar melakukan nazhor (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan perancuan istilah. Istilah pacaran sudah kadong dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, jalan-jalan, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, meneggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggal di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlelu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat. (Diambil dari buku Sutra Asmara, Abu Umar Basyir)

2. Pacaran Mempengaruhi Kecintaan pada Allah
Ibnul Qayyim menjelaskan,
”Kalau orang yang sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaannya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih yang pertama. Ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu ketimbang pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa. Lebih dari itu, angan-angannya untuk selalu dekat dengan sang kekasih, lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah”.

Nah yang paling tepat dan terbaik pacaran setelah menikah
Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ »
“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.”(HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Nah untuk Ikhwan yang suka Modus-modus jangan coba cari pacar Sholehah karena gak bakal dapet :)

Selasa, 10 Mei 2016

Trauma

Kadang ketakutan itu selalu muncul dalam benak ini.
Rasa trauma akan masa lalu masih membanyangiku.
Rapuh dan luka ini masih saja membekas perih.
Seakan belum bisa membuka hati meski ada yang mencoba untuk mengetuknya.
Meski tiga tahun lebih berlalu namun rasa trauma itu masih tetap ada.



Aku takut...
Takut tiga tahun lalu terulang lagi..
Hampir empat tahun menjalani hubungan dengan psikopat yang terus membuatku menangis tiap malam.
Ancaman demi ancaman terus aku dapatkan agar aku terus bersama dia.
Mencoba lepas dari bayangnya sedikit demi sedikit namun malah kembali terjebak dalam kandang pria yang lebih gila darinya.
Menutupi semua kejahatannya dengan sandiwara-sandiwaranya.
Hingga aku kembali tersntak dan terluka kala aku melihat dia telah melakkan hubungan terlarang dengan seorang wanita.

Aku menangis...disamping psikopat itu yang memberikan vidio perselingkuhan kekasihku kala itu.
Namun dia tidak menenangkanku. Melainkan dia membentaku keras-keras bahkan mengancam menurunkanku ditengah jalan dari mobilnya.
Kala itu aku seperti orang pasrah dan mencoba kembali dengan psikopat itu. Dia kembali membangun janji untuk tak menyakitiku.
Aku memang terpaksa menjalin hubungan dengannya.
Membalas budi karena dia banyak membantuku
Dia tak akan melepaskanku sebelum aku bisa mengembalikan semua yang pernah diberikan kepadaku..


Aku sangat tersiksa dengan itu semua
Bertahun-tahun aku akhirnya bisa terlepas darinya
Meski dia selalu mengumpatku bahkan mengincapkan sumpah serapahnya terhadapku
Itu menjadikanku takut untuk membuka hati karena aku taut terulang kembali kejadian itu

Senin, 09 Mei 2016

aku bersyukur Allah masih menyayangiku

Semua ini memang takdir yang telah dituliskan Allah. Mengenal seseorang yang pernah aku anggap baik namun kenyataannya berbanding terbalik. Sering berbuat kasar dan menyakitiku. Mungkin tidak kasar secara fisik namun batin. Meninggalakan itu semua dan mengenal orang yang mampu mengobati setiap luka itu. Namun dengan berjalannya waktu kita memang harus berpisah. Ia memutuskan untuk menikah dan meninggalkanku. Kita memang berbeda. Dia tak mungkin ikut bersamaku begitu juga aku. Awalnya hati ini rapuh, menagis tentu. Dia menjalin hubungan dengan seorang wanita yang memang sudha masuk sejak pertengahan hubunganku dan dia. Dia memang siman dengannya. Jujur aku waktu itu sangat sedih,  sakit dan terluka.

Namun aku tersadar jika Allah telah memberikan yang terbaik untukku. Mendekatkan diri pada Allah serta memperbaiki segala kesalahanku. Kembali mengenakan jilbab serta tak ingin kembali menjalin pacaran sebelum menikah. Banyak dosa yang aku lakukan saat itu. Bahkan telah membawaku jauh dari Allah bahkan berniat untuk meningalkannya demi orang yang sangat aku sayangi. Namun aku kembali tersadar jika itu adalah dosa yang sangat besar dan aku bersyukur Allah masih bersamaku hingga aku tetap teguh akan pendirianku

Minggu, 24 April 2016

JOSH

Kadang aku merasa iri sama teman-teman sebayaku atau teman-teman dikampusku yang telah memiliki kekasih. Mereka kadang bercerita tentang kegiatan mereka. Romantisnya pasangan mereka. Sedang aku sendiri tak tau apa yang aku ceritakan. Kecuali meminta saran tentang novel yang telah selesai aku buat dan rencanaku untuk membuat novel dengan tema Psikopat. Hanya itu. Kadang aku ingin seperti mereka. Namun aku buru-buru menepisnya. Aku memang sudah membuat komitmen untuk tidak berpacaran sebelum aku menikah. Aku meninggalkan orang yang saat itu benar-benar aku sayangi dan menganggapnnya sebagai sahabat. Namun dia kadang berfikir aku hanyalah manusia yang sok alim dengan meninggalkan segala yang pernah aku lakukan. Kadang aku berfikir? Salah aku dengan keputusan yang telah aku perbuat? Aku hanya ingin melakukan apa yang pernah aku pelajari. 

JOSH " Jomblo sampai Halal". Aku pernah seperti mereka. Menjalin hubungan yang memang sangat cukup lama. Bahkan pernah terbesit dibenakku untuk mengikutinya karena kita memang berbeda. Namun seakan Allah melindungiku hingga aku tetap bertahan dengan keyakinanku saat ini. Tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya demi menjalani keseriusan hubungan dengan perbedaan yang kita memiliki.
 Hingga aku memiliki tekat untuk memperdalam agamaku ini. Mendekatkan diri pada sang pencipta dengan kesalahan-kesalahanku terdahulu. Aku memang manusia tak sempurna dengan kesalahan masa lalu yang kadang membuatku seperti tak berarti lagi. Namun aku hanya ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Jumat, 22 April 2016

KEHILANGAN ADALAH GURU IKHLAS PALING BAIK

Pernahkah kalian kehilangan?

Mungkin sebagian dari kalian pernah merasakannya. Kehilangan barang paling berharga atau bahkan kehilangan orangyang paling kalian sayang?
Lantas apa yang kalian lakukan? Kecewa? Marah? Menagis.

Aku pernah meraskan kehilangan yang membuat hatiku benar-benar rapuh.
Kala itu aku menjalin hubungan dengan salah seseorang selepas aku lulus SMA
Awalnya hubungan kita sangat manis. Dia memanjakanku dengan meneruti semua kemauanku.
Namun semua itu menjadi malapetaka buatku.
Dia terus mengancamku saat aku ingin berpisah dengannya. Mengancamku ingin menyakiti keluargaku. Melaporkanku kepolisi. Aku dulu memang terlalu polos hingga aku sangat mudah untuk dibohongin.
Sikap arogan dia terus selalu muncul hingga aku benar-benar merasa sangat tak nyaman
Dilain sisi dengan ancamannya memabuatku benar-benar merasa tertekan hingga membuatku stress
Aku sering menangis. Hidupku benar-benar tak tenang. Namun dilain sisi aku sangat menyanyaginya
Tapi aku tak bisa terus menerus seperti ini. Aku pantas meraskan kebahagiaan.
Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan sebgian uang dari gajiku untuk mengembalikan semua yang pernah dikasih untuknya. Dia meminta untuk mengembalikan semua pemberiannya yang telah diberikan untukku. Bagiku itu sangat besar.
Namun dengan jalan Allah. Allah membantuku untuk terlepas darinya.

Terlepas dari itu. Aku mulai membuka diri unuk orang. Meski jujur sampai sekarang aku maish sangat trauma akan kejadian lalu.
Aku kembali membuka hati untuk seseorang yang awalnya aku sangat kagum akannya hingga menumbuhkan benih cinta diantar kita berdua. Kita memang tak ada ikatan karena kita berdua mempunyai komitmen untuk tidak berpacaran sebelum menikah nantinya. Awalnya hubungan kita sangat baik. Tak henti aku meminta petunjuk dari sang pencipta untuk hubungan taaruf ini. NAmun lagi-lagi aku harus kecewa.
Dia yang aku kagumi dan percaya. Malah giat mendekati beberapa wanita lain. Kecewa pasti, menangis tentu. Lagi-lagi aku kehilangan seseorang. Namun mungkin itu cara Allah untuk mengingatkanku untuk tidak terlalu berharap pada manusia. Dan mencoba ikhlas, awalnya sangat sulit namun dengan berjalannya waktu aku muali terbiasa akan ini semua.


Aku menuai banyak pelajaran dari ini semua. Saat aku kehilangan dan mencoba ikhlas untuk melepas itu semua menjadikan hati ini semakin tenang damai dan tanpa beban.

Minggu, 17 April 2016

kau

Aku tahu memang hubungan kita sudah berakhir sejak lama. 
Semalam aku mendapat kabar bahagia meski bukan dari mulutmu tapi aku senang.
Aku senang karena kamu akan segera menikah.
Aku bahagia akhirnya kamu menemukan jodoh yang seiman dan seagama denganmu.

Memang hubungan kita berakhir dengan cara tidak baik
dan semua ini memang salahku karena selalu berbohong denganmu, tentangku dan sebagainya.
namun itu semua menjadi pembelajaran yang amat baik buatku.
Pembelajaran buatku agar menjadi sosok yanng dewasa serta menjadi diri  sendiri
Belajar akan ketulusan dan belajar cara menghargai orang.

Akhir 2012 lalu komunikasi kita terakhir. Memang aku yang memutuskan menjauh darimu.
Kau tau kan? aku tak akan mungkin terus bertahan akan kenyataan yang sangat menyakitkan buatku.
Aku memang yang memulai permainan ini hingga akhirnya aku yang terjebak dalam permainanku sendiri.
Aku sadar kadang aku memang ingin merasakan bahagia itu. Dulu kau hanya datang saat kau butuh aku. Aku selalu menerima kehadiranmu meski aku sangat merasa kecewa dan sakit akan perlakuanmu namun aku selalu menyembunyikan itu semua dengan senyuman itu.

Kamu tau aku pernah merasakan sakit yang teramat sakit.
Kala itu kamu mengakhiri hubungan ini dan kau tinggalkanku demi DIA.
Aku meneriam karena aku sadar. Namun kau kembali lagi saat kau tak bersama dia aku memaafkanmu meski masih sangat terluka.

Aku pernah merasa sangat bahagia.
Saat kau menelphoneku dan ketika waktu itu kau berada di Balikpapan.
Saat itu aku bekerja Shiff siang dan aku pulang malam.
Kau bilang akan menjemputku bekerja. 
Awalnya  aku tak percaya.
Namun kamu membuktikannya.
Kau menjemputku tepat waktu saat kau pulang dari bandara kamu langsung menjemputku
Aku terharu.

Hubungan kita kembali membaik saat kau mengakui kesalahanmu dan tak akan mengulanginya lagi.
Namun aku kembali tersadar. Ini tak akan kembali emmabaik selamanya. 
KIta berbeda. Dengan sikapmu yang selalu berubah. Aku memutuskan untuk mundur dan aku berhak bahagia jelas bukan denganmu. Tapi dengan seseorang yang telah disiapkan Allah untukku

Sepenggal Rindu Untuk Kekasihku

Kau tau apa yang aku rasakan saat ini?
Rindu..
Aku merasakan itu...
Rindu melihat teduhnya wajahmu..
Rindu akan keramahan hingga manisnya senyummu..
Hampir satu tahun kau meninggalkanku..
Aku tau pasti kau telah berbahagia di Surga sana.
Aku sangat menyanyangimu..
Namun Allah lebih sayang hingga Allah memanggilmu lebih cepat.


Kadang rasa rindu ini selalu singgah.
Aku tak mampu menghapus semua itu.
Menghapus sejuta rindu untukmu
Rindu untuk berjumpa namun tak sanggup menyapa langsng.
Aku hanya mampu menyapamu lewat doa atau hanya sekedar menabur bunga diatas rumah barumu.

Maafkan aku hingga kini aku tak mengunjungimu.
Namun bukan berarti aku tak merindumu.
Aku selalu mendoakanmu disana

Kau tau hari ini hujan sangat deras.
Aku kembali teringat kala itu.
Kau pergi dari rumah dengan membawa tas ransel yang kau gendong.
Kau meninggalkan rumahmu demi mempertahankanku tanpa perduli dengan kondisimu yang sedang sakit.
Hingga keluargamu menyalahkanku karna aku kau muntah darah hingga keadaanmu drop dan kau dirawat dirumah sakit.
Namun kamu masih saja membelaku hingga berjalannya waktu keluargamu mampu menerimaku.

Kau tau hampir 4 tahun bersamamu namun harus berpisah untuk selamanya.
Rencana Indah kita tak akan bisa tercapai karena Allah punya rencana yang jauh lebih Indah untukmu dengan cara mengambilmu dariku.

Jumat, 15 April 2016

Senja Untukmu

Entah kapan terakhir aku menikmati senja kala itu bersamamu.
Duduk ditepi pantai ditemani hembusan angin
Desiran ombak yang menabrak batu karang yang menenagkan jiwa.
Suara tawa hingga air mata menemani kita.

Aku tak mampu meningatnya karena memang cukup lama kita tak menyapa senja.
Aku memang  sangat merindukan itu semua. Merindukanmu yang berada jauh disana.
Aku tau kau pasti melihatku dengan senyuman khasmu.
Aku merasakannya, meski aku tak melihat tawamu lagi.

Aku bahkan tak pernah menikmati senja itu lagi. Menikmati jingganya langit sampai berganti dengan cahaya bulan.
Aku tak ingin mengingatmu hingga air mata ini kembali menetes setelah kepergianmu satu tahun lalu untuk selamanya.


Apakah tubuh ini terlalu rapuh hingga belum mampu menggantikanmu dalam hati.
Menemaniku menikmati senja seperti denganmu.
Berlarian menyusuri bibir pantai, berpura-pura terjatuh agar kau menggendongku?

Aku sadar memang semua perlu waktu. Aku hanya tak ingin terluka. Terluka karna kepalsuan cinta lalu dan kau sembuhkan semua luka itu namun kau pergi untuk selamanya.

Senja..sampaikan rindu ini untuk dia disana. Katakan jika aku sangat merindukannya.

Apakah Ini

Wajah itu begitu teduh. Aku merasakan keteduhan itu meski aku baru berjumpa dengannya 3 kali.
Aku tak pernah menyapanya hanya mengetahui namanya saja. Namu kekaguman itu kadang membuat bayangannya selalu singgah dalam pikiran ini. Buka perasaan cinta karena aku belum merasakannya hanya sebatas kekaguman. Usianya memang masih sangat muda hanya selisih 2 tahun denganku namun kepintarannya hingga membuatnya menjadi orang penting untuk anak bangsa.

Aku tak berharap mengenalnya lebih dekat dan menjadi bagian istimewa darinya. Mengenalnya lebih dari cukup buatku. Aku percaya akan takdir, akan semua rencana sanga pencipta hingga aku tak akan pernah berharap lebih hingga akan membuat hati merasa kecewa hingga mengeluarkan airmata yang tak seharusnya.

Entah apakah aku masih bisa melihatnya untuk kedepan atau mungkin cukup untuk kemarin pertemuan terakhir dengannya karena tugas beliau sudah usai.

Namun kadang aku berfikir mengapa belakangan ini wajahnya selalu menghantui pikiranku?
Padahal aku sama sekali tak berniat memikirkannya?

Rabu, 13 April 2016

MELEPASKAN

"Belajarlah Melepaskan Jika Kamu tak Ingin Kecewa"

Satu dari nasihat kiai disalah satu pesantren di Tangerang. Melepaskan jika tak ingin kecewa jika berharap pada manusia. Belajar mengikhlaskan dan lihat apa rencana dari Allah.

Saya mencoba menerapkannya. Ketika kekagumanku akan seseorang hingga menumbuhkan benih cinta. Hubungan kita terasa dekat dengan sangat sering  bertukar pesan. Hingga suatu saat dia berhasil membuatku kecewa namun seketika aku tersadar. Ia karena tak seharusnya aku merasakan ini.

Kamis, 11 Februari 2016

takdir

Rindu,,
kadang rasa itu sering membayangiku. Namun tak sepantasnya aku merindunya. Merindu seseorang yang memamng belum halal untukku. Namun, dibalik kerinduanku tersimpan sebuah luka. Luka yang kembali perih saat mengingatnya. Minggu itu memang pertemuan terakhir kita. Lantas setelah itu kita tak saling menghubungi kembali. Entah sampi kapan, namun mungkin akan selamanya. Apakah itu semua salahku yang terlalu ego. Tapi mungkin juga tidak. Ini memang yang terbaik. Dia yang selalu membuat seribu janji manis namun akhirnya dia mendustainya.

Ini semua takdir dari sang pencipta. Kala kita tak di takdirkan untuk bersama namun hanya untuk menghiasi hati kita.
Namun aku maish tak bisa membayangkan. Jika esok kita dipertemukan kembali. Akankah aku menghindarimu? Akankah aku pura-pura tak mengenalmu? apakah itu lebih baik atau malah menyiksaku? meski kadang hati sudh memberi maaf namun kadang melupakan itu yang paling sulit.

Minggu, 03 Januari 2016

Cerita Fiksi dalam Islam, Boleh Nggak ya..... ? Posted by Majelispenulis.blogspot.co.id

Cerita Fiksi dalam Islam, Boleh Nggak ya..... ?
Disusun oleh : Abdurrahman

Kisah Fiksi adalah salah satu dari genre tulisan yang mengedepankan imajinasi dan daya khayal penulisnya. Ia disusun berdasarkan pada kisah-kisah khayalan yang disusun oleh penulisnya. Bagaimana hukum menulis dan membaca kisah-kisah fiksi dalam sebuah novel atau cerpen? Sebuah pertanyaan yang memerlukan pembahasan mendalam, kehati-hatian, tanpa adanya sikap taklid kepada seseorang dan yang lebih penting dari semua itu adalah ilmu yang didasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman para pendahulu kita yang shalih.
Sebelum membaca tulisan ini hendaklah harus kita pahami bahwa Islam adalah agama yang telah sempurna. Kesempurnaan Islam telah diberikan jaminan oleh Allah ta’ala. Maka tidaklah suatu syariat yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ta’ala kecuali telah dijelaskan dalam syariat Islam yang mulia ini. Kesempurnaan Islam yang bersifat sempurna adalah berkaitan dengan Al-Aqaid atau akidah (keyakinan) kepada Allah ta’ala dan hal-hal yang bersifat tauqify lainnya.
Adapun dalam permasalahan yang berkaitan dengan fiqh ter utama yang tidak ada nash (dalil) nya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka di sana berlaku apa yang disebut dengan ijtihad. Perlu ditegaskan di sini pula bahwa ijtihad sendiri memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jadi tidak semua orang bisa berijtihad dan disebut mujtahid.
Masalah hukum menulis dan membaca cerita fiksi telah menjadi ajang perdebatan yang hingga saat ini belum selesai. Ada dua pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa haram hukumnya menulis dan membaca cerita fiksi. Hal ini didasarkan pada fatwa masyaikh (Para Ulama) ketika ditanya tentang hukum menulis dan membaca cerita fiksi. Pendapat kedua menyatakan mubah dengan alasan beberapa fatwa dari ulama yang membolehkan hal itu. Sebagai seorang muslim, menjadi kewajiban kita untuk mengikuti para ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi. Hanya saja ketika dihadapkan pada permasalahan yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat maka kita harus bijak dalam menyikapinya.
Lebih tegas lagi bahwa sebagai seorang muslim, kita tidak hanya berhenti pada menerima fatwa tersebut tanpa mengetahui dasar dan nash yang digunakan dalam fatwa tersebut. Maksudnya adalah kita tidak dengan mudah mengklaim bahwa pendapat “A” paling benar sebelum mengetahui secara detail permasalahannya dan dasar hukum yang digunakan.
Di sinilah keilmuan kita ditantang, hal ini sama sekali bukan menyepelekan fatwa-fatwa para ulama tersebut akan tetapi kita juga diajarkan oleh para ulama untuk tidak bersikap taklid dan ta’ashub. Artinya ketika kita mendapatkan sebuah pendapat (entah itu fatwa atau yang lainnya) akan lebih baik jika kita juga memahami dasar dari fatwa tersebut. Inilah sikap seorang muslim, bukan hanya menjadi muqqolid tapi diharapkan menjadi seorang mujtahid.
Maka dengan kepala dingin dan tanp syak wa sangka kita akan membahas tentang permasalahan hukum menulis dan membaca cerita fiksi.
Sebagaimana disebutkan di awal bahwa ada dua pendapat berkenaan dengan hukum menulis dan membaca ceritera fiksi. Pendapat pertama didasarkan pada fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, berikut adalah fatwa beliau :
Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Pertanyaan:
Apa hukum membaca dan menulis kisah fiksi dan cerita yang bisa membangkitkan imajinasi? Dan apakah jika kisah-kisah ini membantu memperbaiki beragam masalah sosial, maka kisah-kisah ini diperbolehkan?
Jawaban:
Kisah fiksi seperti ini merupakan kedustaan yang hanya menghabiskan waktu si penulis dan pembaca tanpa memberikan manfaat. Jadi lebih baik bagi seseorang untuk tidak menyibukkan diri dengan perkara ini (menulis atau membaca cerita fiksi-ed).
Apabila kegiatan membaca atau menulis kisah fiksi ini membuat seseorang lalai dari perkara yang hukumnya wajib, maka kegiatan ini hukumnya haram. Dan apabila kegiatan ini melalaikan seseorang dari perkara yang hukumnya sunnah maka kegiatan ini hukumnya makruh. Dalam setiap kondisi, waktu seorang muslim sangat berharga, jadi tidak boleh bagi dirinya untuk menghabiskan waktunya untuk perkara yang tidak ada manfaatnya.
Fatwa Syaikh Fauzan dalam ad-Durar an-Naadhirah fil-Fataaawa al-Mu’aasirah – hal. 644-645, al-Fauzaan – ad-Da’wah 1516, Jumaada al-Oolaa 1416 H.
Dalam kesempatan lainnya beliau (Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan) berfatwa mengenai hukum sandiwara sebagai wasilah dakwah :
Beliau mengatakan “Saya katakan tidak boleh karena: Pertama: Di dalamnya melalaikan orang yang hadir, mereka memperhatikan gerakan-gerakan pemain sandiwara dan mereka senang(tertawa). Di dalamnya mengandung unsur menyia-nyiakan waktu. Orang Islam akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap waktunya. Dia dituntut untuk memelihara dan mengambil faedah dari waktunya, untuk mengamalkan apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta'ala, sehingga manfaatnya kembali kepadanya baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana hadits Abu Barzah Al-Aslamy, dia berkata,'Telah bersabda Rasulullah, “Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang hartanya darimana dia dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang badannya untuk apa dia kerahkan. Imam At Tirmidzi (2417).
Umumnya sandiwara itu dusta. Bisa jadi memberi pengaruh bagi orang yang hadir dan menyaksikan atau memikat perhatian mereka atau bahkan membuat mereka tertawa. Itu bagian dari cerita-cerita khayalan. Sungguh telah ada ancaman dari Rasulullah bagi orang yang berdusta untuk menertawakan manusia dengan ancaman yang keras. Yakni dari Muawiyah bin Haidah bahwasanya Rasulullah bersabda, “Celaka bagi orang-orang yang berbicara(mengabarkan) sedangkan dia dusta (dalam pembicaraannya) supaya suatu kaum tertawa maka celakalah bagi dia, celakalah bagi dia.” Hadits Hasan riwayat Hakim(I/46), Ahmad(V/35) dan At-Tirmidzi(2315). Mengiringi hadits ini Syaikh Islam berkata,'Dan sungguh Ibnu Mas'ud berkata, “Sesungguhnya dusta itu tidak benar baik sungguh-sungguh maupun bercanda”.
Adapun apabila dusta itu menimbulkan permusuhan atas kaum muslimin dan membahayakan atas dien tentu lebih keras lagi larangannya. Bagaimanapun pelakunya yang menertawakan suatu kaum dengan kedustaan berhak mendapat hukuman secara syar'i yang bisa menghalangi dari perbuatannya itu. Majmu Fatawa(32/256).
Tentang cerita-cerita, sungguh ulama' salaf membenci cerita-cerita dan majelis-majelis cerita. Mereka memperingatkan segala peringatan dan memerangi para narator (pencerita) dengan berbagai sarana. Ibnu Abi Ashim meriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa Ali melihat seseorang bercerita, maka dia berkata, Apakah engkau tahu tentang naskh(ayat yang menghapus) dan mansukh(yang dihapus) ? Maka dia (pencerita itu) menjawab,Tidak. Ali berkata,Binasa engkau dan engkau telah membinasakan mereka. Al-Mudzakir wa at-Tadzkir (hal 82).
Imam Malik berkata, Sungguh saya benci cerita-cerita di masjid. Saya memandang berbahaya ikut bermajelis dengan mereka. Sesungguhnya cerita-cerita itu bid'ah. Imam Ahmad berkata,Manusia yang paling dusta adalah para narator dan orang yang paling banyak bertanya (dengan pertanyaan yang tidak ada faedahnya). Kemudian ditanyakan padanya (Imam Ahmad),Apakah Anda menghadiri majelis mereka ? Dia menjawab, Tidak. Al-Bida' wa al-Hawadits karya At-Turrusyi hal 109-112.
Kedua: Individu-individu yang ditiru, kadang-kadang berasal dari tokoh Islam, seperti sahabat. Hal ini dianggap sebagai sikap meremehkan mereka. Hal ini didasarkan dari sebuah riwayat yang disampaikan dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, 'Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan sungguh bagi saya seperti ini dan seperti ini'. Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/136-206), At-Tirmidzi(2501). Baik si pemain merasa atau tidak. Contoh: anak kecil atau seseorang yang sangat tidak pantas, menirukan ulama atau sahabat. Ini tidak boleh. Kalau ada seseorang datang menirukan kamu, berjalan seperti jalanmu, apakah engkau ridha dengan hal ini? Bukankah sikap ini digolongkan sebagai sikap merendahkan terhadap kamu? Walaupun orang yang meniru tersebut bermaksud baik menurut sangkaannya. Tetapi setiap individu tidak akan rela terhadap seseorang yang merendahkan dirinya.
Ketiga: Yang ini sangat berbahaya, sebagian mereka menirukan pribadi kafir seperti Abu Jahal atau Fir'aun dan selain mereka. Dia berbicara dengan pembicaraan yang kufur yang menurut dugaannya dia hendak membantah kekufurannya, atau ingin menjelaskan bagaimana keadaan jahiliyah. Ini adalah tasyabuh (meniru). Rasulullah melarang tasyabuh dengan orang-orang musyrik dan kufur, sebagaimana sabda beliau 'Selisihilah orang-orang Yahudi dan Nashara..'[Taqrib Ibnu Hibban(2186)], 'Berbedalah dengan orang-orang musyrik...' [Muslim(259)], 'Berbedalah dengan orang-orang Majusi..' [Muslim(260)].
Peniruan ini baik meniru (menyerupai) kepribadian maupun perkataannya. Dakwah dengan cara ini dilarang karena tidak ada petunjuk Rasulullah serta bukan dari salafu ash shalih maupun petunjuk kaum muslimin. Model-model sandiwara ini tidak dikenal kecuali dari luar Islam. Masuk kepada kita dengan nama dakwah Islam, dan dianggap sebagai sarana-sarana dakwah. Ini tidak benar karena sarana dakwah adalah tauqifiyah(ittiba'). Cukup dengan yang dibawa Rasulullah dan tidak butuh jalan seperti ini. Bahwasanya dakwah akan tetap menang dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Tanpa adanya model-model sandiwara ini. Tatkala cara ini (sandiwara) datang tidaklah menampakkan kebaikan kepada manusia sedikitpun, dan tidak bisa mempengaruhinya. Hal itu menunjukkan bahwa cara ini (sandiwara) adalah perkara negatif dan tidak ada faedahnya sedikitpun. Bahkan di dalamnya terdapat hal-hal yang membahayakan.
Lalu jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya Malaikat itu menyerupai bentuk anak Adam.(maksudnya bersandiwara kepada manusia-ed)
Kami jawab, 'Malaikat-malaikat itu datang dalam bentuk anak Adam, karena manusia tidak mampu melihat dalam bentuknya yang asli. Ini merupakan kebaikan bagi manusia. Sebab jika malaikat datang dengan bentuk mereka yang sebenarnya, maka manusia tidak akan mampu berbicara dengan mereka dan tidak bisa melihat kepada mereka. Para malaikat tatkala menyerupai bentuk manusia tidak bermaksud bermain sandiwara sebagaimana yang mereka inginkan. Malaikat itu menyerupai manusia dalam rangka memperbaiki. Karena malaikat mempunyai bentuk sendiri yang berbeda dari manusia. Adapun manusia maka bagaimana bentuk seseorang itu berubah kepada bentuk manusia yang lain. Apa yang mendorong kepada perubahan ini?
Kemudian ada beberapa tambahan keterangan yang diambil dari berbagai sumber: Syaikh Bakar Abu Zaid berkata dalam kitabnya At-Tamtsil,'Keberadaan sandiwara awalnya adalah bentuk peribadahan non-Islam. Sebagian ahlu ilmi menguatkan, bahwa inti sandiwara itu adalah bagian dari syiar-syiar peribadahan penyembah berhala di Yunani.(Hal 18) sandiwara itu tak ada hubungannya dengan sejarah kaum muslimin pada generasi yang pertama(utama). Kedatangannya tak disangka-sangka pada masa sedikitnya orang yang berilmu, yakni pada abad 14H. Kemudian disambut dengan mendirikan rumah-rumah hiburan dan gedung-gedung sandiwara, serta merta berpindahlah dari tempat-tempat peribadahan kaum Nashara kepada sekelompok pelaku sandiwara Islami di sekolah-sekolah daripada sebagian jamaah Islam.
Apabila hal ini telah dimaklumi, maka ketahuilah bahwa kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip Islam yang mengangkat ahlinya kepada derajat mulia dan sempurna tentu menuntut penolakan dengan cara itu. Sebagaimana diketahui, bahwa suatu amal mungkin termasuk sebagai ibadah, atau bisa jadi termasuk sebagai adat. Maka asal ibadah, tidaklah disyariatkan kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan asal adat adalah tidak dilarang kecuali apa yang telah Allah larang. Oleh karena itu sandiwara Islami itu tidak boleh diadakan sebagai jalan ibadah, atau pun sebagai bagian dari kebiasaan atau adat yang mengandung unsur permainan dan hiburan.
Sandiwara Islami tidak ditetapkan dalam syariat, dia jalan yang baru. Sebagian dari keseluruhan ajaran Islam adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah,'Barangsiapa yang membikin perkara-perkara baru dalam urusan kami(Islam), yang perkara itu buka dari Islam maka tertolak'. Karena itu, apa yang telah dilihat pada beberapa sekolahan atau kampus-kampus, yakni adanya permainan sandiwara Islami maka sesungguhnya itu adalah sandiwara bid'ah, karena telah diketahui asalnya. amalan tersebut bagi kaum muslimin adalah perkara yang keluar dari daerah yang ditentukan berdasarkan dalil syar'i. Karena amalan tersebut merupakan peribadahan penyembah berhala dari Yunani dan ahlu bid'ah Nashara, maka tak ada dasarnya dalam Islam secara mutlak. Jadi amalan itu adalah perkara baru dalam islam dan setiap perkara baru dalam Islam adalah bid'ah yang menyerupai syariah. Nama yang pas untuk istilah itu berdasar syariat Islam adalah 'Sandiwara Bid'ah'.
Apabila sandiwara ini dimasukkan sebagai adat, maka hal itu menyerupai musuh-musuh Allah (kafir). Sedangkan kita telah dilarang menyerupai mereka. Sementara perkara itu tidak dikenal kecuali dari mereka.
Jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya sarana-sarana berdakwah merupakan bagian dari mashalihul Mursalah'. Kami jawab,'Apakah syariah meremehkan segala kebaikan bagi hamba-hambanya?
Jawabannya terdapat dalam keterangan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, sebagai berikut,'Secara singkat bahwa syariah tidak meremehkan kebaikan (maslahah) sama sekali, bahkan Allah Ta'ala telah menyempurnakan dien nikmatNya bagi kita. Jadi tidak ada yang mendekatkan diri ke surga kecuali kita telah diperintahkan beliau untuk mengerjakannya. Beliau telah meninggalkan kita di atas lembaran yang putih bersih. Malamnya seprti siangnya, tidak menyimpang daripadanya melainkan orang yang binasa. Hujatu al-Qawiyyah 'Ala Anna Wasa'ila ad-Da'wah Tauqifiyyah, karya Abdussalam bin Barjas hal 40.
Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al Haritsi berkata, 'Apabila sejumlah besar dari berbagai kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertaubat kepada al-haq dengan jalan yang syar'i dan memang harus demikian. Maka mengapa seorang da'i mencari jalan yang tidak terdapat di dalam syara' ? Lagipula bahwa sesungguhnya apa yang terdapat dalam syara' sungguh telah mencukupi untuk memperoleh tujuan dakwah kepada Allah. Yakni menjadikan ahlu maksiat bertaubat dan orang-orang yang tersesat mendapat petunjuk. Hendaklah para da'i melapangkan dirinya tatkala berdakwah kepada Allah dengan sarana yang para sahabat melapangkan diri mereka di atasnya. Sesungguhnya mereka kembali menuju kepada ilmu. Ibnu Mas'ud berkata,'Sesungguhnya kalian akan menciptakan perkara yang baru dan akan diciptakan perkara baru untuk kalian, Maka, apabila kalian melihat perkara yang baru, wajib atas kalian berpegang dengan perkara yang pertama (Rasulullah dan para sahabat)'. Ibnu Mas'ud berkata pula,'Hati-hati kalian terhadap bid'ah, hati-hati kalian terhadap berlebih-lebihan, hati-hati kalian terhadap berdalam-dalaman dan wajib kalian berpegang teguh dengan generasi yang dahulu'.
Syaikh Abdussalam berkata,'Sesungguhnya menentukan kebaikan dalam suatu perkara adalah sulit sekali. Kadang-kadang seorang pengamat menyengka bahwa ini adalah maslahah, padahal ini, sesungguhnya yang berkuasa menentukan kemaslahatan adalah ahlu ilmi. Merekalah yang dipenuhi keadilan dan bashirah, yang senantiasa mewujudkan hukum-hukum syariah serta kebaikan-kebaikan. Oleh karena itu suatu masalah butuh sikap hati-hati yang besar dan sangat waspada dari penguasaan hawa nafsu jika menghendaki sesuatu yang baik. Hawa nafsu sering menghiasi sesuatu yang rusak menjadi tampak baik, sehingga banyak orang tertipu. Padahal bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu bagaimana para muqallid(orang yang taklid) itu bisa dikuasai dengan persangkaan kemudian menentukan bahwa ini adalah maslahah? Bukankah ini merupakan sikap lancang terhadap dien dan sikap nakal terhadap hukum syar'i dengan tanpa keyakinan?
Demikianlah fatwa dari Syaikh Al-Fauzan mengenai hukum sandiwara dan yang sejenisnya dalam Islam. Sekarang kita kembali ke permasalahan fiksi.
Selain fatwa Syaikh Al-Fauzan, Lajnah Daimah juga telah memfatwakan tentang permasalahan ini, berikut adalah fatwa tersebut:
Soal:
Bolehkah seseorang menulis cerita bohong, seperti cerita khayal atau cerita fiktif untuk disajikan kepada anak-anak agar dibaca dan dijadikan pelajaran?
Jawab:
Diharamkan bagi seorang muslim menulis cerita-cerita bohong ini. Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an, Al-Hadits, kisah nyata lainnya sudah cukup dijadikan sebagai pelajaran dan peringatan yang bagus.
Al-Lajnah Daimah lil Buhuts 'Ilmiyyah wal Ifta. Ketua: Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baz, Wakil: Syaikh 'Abdurrazaq 'Afifi
Demikianlah fatwa-fatwa yang mendukung pendapat bahwa menulis dan membaca cerita fiksi adalah haram hukumnya. Hal ini didasarkan kepada beberapa sebab :
1.Cerita fiksi adalah bentuk kedustaan (bohong)
2.Cerita fiksi tidak dapat dijadikan wasilah dakwah karena sifatnya yang tidak ada contohnya pada masa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa salam.
3.Cerita fiksi hanya membuang-buang waktu dan melalaikan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kisah-kisah nyata lainnya.

Pendapat Kedua : Mubah / Boleh
Pendapat kedua mengenai hukum menulis dan membaca cerita fiksi mubah atau boleh, hal ini didasarkan pada fatwa dari Syaikh Dr Muhammad Bazmul,:
والسؤال الثاني : عن حكم كتابة القصص الخيالية الإسلامية ؟
Pertanyaan :
Apa hukum cerita fiksi islami?
أما بالنسبة للسؤال الثاني : فالظاهر أن القصة إذا كانت متخيلة لأشخاص متخيلين بأحداث متخيلة فهي جائزة، مادام أن الشخص يقصد تقريب المعاني الشرعية، وتقريرها.
Jawaban :
Yang tepat kisah fiksi itu diperankan oleh tokoh-tokoh fiktif dalam rangkaian peristiwa yang juga fiktif hukumnya boleh jika penulis cerita fiksi bermaksud untuk menyampaikan dan memahamkan kepada pembaca pesan-pesan yang sejalan dengan syariat.
والأفضل لهذا الذي رزقه الله موهبة الكتابة القصصية أن يقتصر على ما ورد في القرآن العظيم والسنة النبوية، فهذه أحسن القصص، ومعاني الشرع فيها متقررة على أتم وجه، بلا محظور.
Namun yang terbaik bagi orang yang Allah beri bakat untuk menulis kisah adalah mencukupkan diri dengan kisah yang terdapat dalam al Qur’an dan sunnah Nabi. Itulah sebaik-baik kisah dan nilai-nilai yang yang ada di dalamnya juga disampaikan dengan demikian sempurna tanpa ada hal terlarang di dalamnya”.
Selain itu Syeikh Ibnu Jibrin juga berfatwa mengenai hal ini, berikut adalah fatwa beliau :
رقم الفتوى (8493) موضوع الفتوى القصص في مادة التعبير
No fatwa: 8493 tentang cerita yang ada dalam pelajaran ta’bir (membaca teks dalam pelajaran Bahasa Indonesia).
السؤال س: ما رأي فضيلتكم في القصص التي تطلب في المدرسة في مادة التعبير والتي تكون في غالبها قصصًا مكذوبة ولم تقع؟
Syeikh Ibnu Jibrin rahimahullah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa pendapat Anda tentang teks bacaan yang ada dalam buku pelajaran ta’bir yang biasanya berupa cerita rekaan yang tidak pernah terjadi secara real di alam nyata?”
الاجابـــة
إذا عرف الحاضرون أنها قصص خيالية ابتكرها الكاتب، أو القاص لشحذ أذهان الطلاب واجتذاب أفهامهم وضرب الأمثلة لهم فلا بأس بها
Jawaban Syeikh Ibnu Jibrin, “Jika para hadirin (baca:murid) yang ada di kelas seluruhnya paham bahwa kisah tersebut semata-mata cerita fiksi yang dibuat oleh penulis atau guru yang mengisahkan cerita tersebut dengan tujuan menarik konsentrasi dan perhatian para murid atau sebagai permisalan maka hukumnya adalah tidak mengapa.
فقد أقر العلماء القصص المؤلفة كما في مقامات بديع الزمان الهمذاني ومقامات الحريري ونحوها مع أنه يُفضل أن يبحث عن قصص واقعية يصوغها بعبارته ويظهر ما فيها من المعاني والفوائد. والله أعلم.
Alasannya adalah karena para ulama (terdahulu) membolehkan kisah-kisah fiktif yang ada dalam buku Maqamat karya Badiuz Zaman al Hamdzani dan al Maqamat karya al Hariri dan buku-buku sejenis.
Akan tetapi yang lebih baik adalah mencari kisah-kisah nyata yang disampaikan dengan bahasa sendiri lalu guru menyampaikan pesan dan pelajaran yang terkandung di balik kisah tersebut”.
Pendapat yang membolehkan cerita fiksi juga didasarkan pada Al-Qur’an yang banyak menggunakan tamsil (permisalan) untuk menjelaskan suatu permasalahan kepada manusia, berikut adalah dalil-dalilnya :
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api , maka setelah
api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. Al-Baqarah : 17)
“Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil
binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja . Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah : 171)
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan nya dengan ayat-ayat
itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya . Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”.(QS. Al-A`raf : 176)
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka
tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”(QS. Al-Jumuah : 5).
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”(QS. Al-ankabut : 43).
“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quraan ini setiap
macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.”(QS. Az-Zumar : 27).

Demikian pula fatwa berikut :
رقـم الفتوى : 13278 عنوان الفتوى : تأليف وقراءة القصص الخيالية… رؤية شرعية تاريخ الفتوى : 20 ذو القعدة 1422 / 03-02-2002
Pandangan syariat tentang menulis dan membaca cerita fiksi.
السؤال
هل يحل في الإسلام تأليف الكتب الخيالية أم يعتبر هذا نوعاً من الكذب؟
Pertanyaan, “Apakah di dalam Islam diperbolehkan menulis buku cerita fiksi atau cerita fiksi dinilai sebagai bagian dari dusta?”
الفتوى
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:
فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “حدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج” رواه أحمد وأبو داود وغيرهما، وزاد ابن أبي شيبة في مصنفه: “فإنه كانت فيهم أعاجيب”.
وقد صحح الألباني هذه الزيادة
Jawaban, “Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sampaikanlah cerita-cerita yang berasal dari Bani Israil dan itu tidaklah mengapa” (HR Ahmad, Abu Daud dll). Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah terdapat tambahan, “Karena sesungguhnya dalam cerita-cerita Bani Israil terkandung cerita-cerita yang menarik”. Tambahan Ibnu Abi Syaibah ini dinilai sahih oleh Al Albani.
قال أهل العلم: وهذا دالٌّ على حل سماع تلك الأعاجيب للفرجة لا للحجة، أي لإزالة الهم عن النفس، لا للاحتجاج بها، والعمل بما فيها.
Para ulama mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mendengarkan cerita-cerita Bani Israil yang menarik sekedar untuk hiburan, bukan untuk berdalil. Dengan kata lain, hanya untuk menghilangkan kegundahan hati, bukan untuk berdalil dan beramal dengan isi kandungannya.
وبهذا الحديث استدل بعض أهل العلم على حل سماع الأعاجيب والفرائد من كل ما لا يتيقن كذبه بقصد الفرجة، وكذلك ما يتيقن كذبه، لكن قصد به ضرب الأمثال والمواعظ، وتعليم نحو الشجاعة، سواء كان على ألسنة آدميين أو حيوانات إذا كان لا يخفى ذلك على من يطالعها. هكذا قال ابن حجر الهيثمي – رحمه الله – من الشافعية.
Hadits di atas dijadikan dalil oleh sebagian ulama untuk menunjukkan bolehnya mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik dengan tujuan hiburan dengan syarat cerita tersebut tidak diketahui secara pasti kebohongannya. Sedangkan jika cerita tersebut sudah diketahui secara pasti kebohongannya maka boleh diceritakan dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat berani baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan asalkan semua orang yang membacanya pasti faham bahwa cerita tersebut hanya sekedar imajinasi atau karangan semata. Inilah pendapat Ibnu Hajar al Haitaimi, seorang ulama bermazhab syafii.
وذهب آخرون وهم علماء الحنفية إلى كراهة القصص الذي فيه تحديث الناس بما ليس له أصل معروف من أحاديث الأولين، أو الزيادة، أو النقص لتزيين القصص.
Di sisi lain para ulama bermazhab Hanafi berpendapat makruhnya kisah yang isinya adalah hal-hal yang tidak berdasar berupa kisah-kisah tentang kehidupan masa lalu atau memberi tambahan atau pengurangan pada kisah nyata dengan tujuan memperindah kisah.
ولكن لم يجزم محققو المتأخرين منهم كابن عابدين بالكراهة إذا صاحب ذلك مقصد حسن، فقال ابن عابدين رحمه الله: (وهل يقال بجوازه إذا قصد به ضرب الأمثال ونحوها؟ يُحَرَّر).
Akan tetapi ulama muhaqqiq (pengkaji) yang bermazhab hanafi dari generasi belakangan semisal Ibnu Abidin tidak menegaskan makruhnya hal tersebut jika orang yang melakukan memiliki niat yang baik. Ibnu Abidin mengatakan, “Mungkinkah kita katakan bahwa hukum hal tersebut adalah mubah jika maksud dari membawakan kisah tersebut untuk membuat permisalan dengan tujuan memperjelas maksud atau niat baik semisalnya? Perlu telaah ulang untuk memastikan hal ini”.
والذي يظهر جواز تأليف الكتب التي تحتوي قصصاً خيالياً إذا كان القارئ يعلم ذلك، وكان المقصد منها حسناً كغرس بعض الفضائل،
Kesimpulannya, diperbolehkan menulis buku yang berisi cerita fiksi dengan dua syarat:
a. Semua orang yang membacanya menyadari bahwa cerita tersebut hanyalah fiksi.
b. Maksud dari ditulisnya cerita tersebut adalah niat yang baik semisal menanamkan akhlak-akhlak mulia.
أو ضرب الأمثال للتعليم كمقامات الحريري مثلاً، والتي لم نطلع على إنكاره من أهل العلم مع اطلاعهم عليها، وعلمهم بحقيقتها، وأنها قصص خيالية لا أصل لها في الواقع.
والله أعلم.
Atau dengan tujuan sekadar membuat permisalan dalam proses belajar mengajar sebagaimana al maqamat karya al Hariri. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada satupun ulama di masa silam yang mengingkari al maqamat tersebut padahal mereka mengetahui adanya buku fiksi tersebut dan mereka mengetahui bahwa hakikat buku tersebut adalah kisah-kisah fiksi yang tidak ada di alam nyata”.



Dari dua pendapat ini kita akan bahas lebih mendalam mengenai hukum cerita fiksi dalam Islam. Karena sifatnya yang kontroversi maka pada bagian pertama ini kita baru membahas tentang pendapat-pendapat mereka. Insya Allah pada bagian selanjutnya kita akan bahas lebih mendalam........ bersambung Insya Alloh.