Minggu, 24 April 2016

JOSH

Kadang aku merasa iri sama teman-teman sebayaku atau teman-teman dikampusku yang telah memiliki kekasih. Mereka kadang bercerita tentang kegiatan mereka. Romantisnya pasangan mereka. Sedang aku sendiri tak tau apa yang aku ceritakan. Kecuali meminta saran tentang novel yang telah selesai aku buat dan rencanaku untuk membuat novel dengan tema Psikopat. Hanya itu. Kadang aku ingin seperti mereka. Namun aku buru-buru menepisnya. Aku memang sudah membuat komitmen untuk tidak berpacaran sebelum aku menikah. Aku meninggalkan orang yang saat itu benar-benar aku sayangi dan menganggapnnya sebagai sahabat. Namun dia kadang berfikir aku hanyalah manusia yang sok alim dengan meninggalkan segala yang pernah aku lakukan. Kadang aku berfikir? Salah aku dengan keputusan yang telah aku perbuat? Aku hanya ingin melakukan apa yang pernah aku pelajari. 

JOSH " Jomblo sampai Halal". Aku pernah seperti mereka. Menjalin hubungan yang memang sangat cukup lama. Bahkan pernah terbesit dibenakku untuk mengikutinya karena kita memang berbeda. Namun seakan Allah melindungiku hingga aku tetap bertahan dengan keyakinanku saat ini. Tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya demi menjalani keseriusan hubungan dengan perbedaan yang kita memiliki.
 Hingga aku memiliki tekat untuk memperdalam agamaku ini. Mendekatkan diri pada sang pencipta dengan kesalahan-kesalahanku terdahulu. Aku memang manusia tak sempurna dengan kesalahan masa lalu yang kadang membuatku seperti tak berarti lagi. Namun aku hanya ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Jumat, 22 April 2016

KEHILANGAN ADALAH GURU IKHLAS PALING BAIK

Pernahkah kalian kehilangan?

Mungkin sebagian dari kalian pernah merasakannya. Kehilangan barang paling berharga atau bahkan kehilangan orangyang paling kalian sayang?
Lantas apa yang kalian lakukan? Kecewa? Marah? Menagis.

Aku pernah meraskan kehilangan yang membuat hatiku benar-benar rapuh.
Kala itu aku menjalin hubungan dengan salah seseorang selepas aku lulus SMA
Awalnya hubungan kita sangat manis. Dia memanjakanku dengan meneruti semua kemauanku.
Namun semua itu menjadi malapetaka buatku.
Dia terus mengancamku saat aku ingin berpisah dengannya. Mengancamku ingin menyakiti keluargaku. Melaporkanku kepolisi. Aku dulu memang terlalu polos hingga aku sangat mudah untuk dibohongin.
Sikap arogan dia terus selalu muncul hingga aku benar-benar merasa sangat tak nyaman
Dilain sisi dengan ancamannya memabuatku benar-benar merasa tertekan hingga membuatku stress
Aku sering menangis. Hidupku benar-benar tak tenang. Namun dilain sisi aku sangat menyanyaginya
Tapi aku tak bisa terus menerus seperti ini. Aku pantas meraskan kebahagiaan.
Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan sebgian uang dari gajiku untuk mengembalikan semua yang pernah dikasih untuknya. Dia meminta untuk mengembalikan semua pemberiannya yang telah diberikan untukku. Bagiku itu sangat besar.
Namun dengan jalan Allah. Allah membantuku untuk terlepas darinya.

Terlepas dari itu. Aku mulai membuka diri unuk orang. Meski jujur sampai sekarang aku maish sangat trauma akan kejadian lalu.
Aku kembali membuka hati untuk seseorang yang awalnya aku sangat kagum akannya hingga menumbuhkan benih cinta diantar kita berdua. Kita memang tak ada ikatan karena kita berdua mempunyai komitmen untuk tidak berpacaran sebelum menikah nantinya. Awalnya hubungan kita sangat baik. Tak henti aku meminta petunjuk dari sang pencipta untuk hubungan taaruf ini. NAmun lagi-lagi aku harus kecewa.
Dia yang aku kagumi dan percaya. Malah giat mendekati beberapa wanita lain. Kecewa pasti, menangis tentu. Lagi-lagi aku kehilangan seseorang. Namun mungkin itu cara Allah untuk mengingatkanku untuk tidak terlalu berharap pada manusia. Dan mencoba ikhlas, awalnya sangat sulit namun dengan berjalannya waktu aku muali terbiasa akan ini semua.


Aku menuai banyak pelajaran dari ini semua. Saat aku kehilangan dan mencoba ikhlas untuk melepas itu semua menjadikan hati ini semakin tenang damai dan tanpa beban.

Minggu, 17 April 2016

kau

Aku tahu memang hubungan kita sudah berakhir sejak lama. 
Semalam aku mendapat kabar bahagia meski bukan dari mulutmu tapi aku senang.
Aku senang karena kamu akan segera menikah.
Aku bahagia akhirnya kamu menemukan jodoh yang seiman dan seagama denganmu.

Memang hubungan kita berakhir dengan cara tidak baik
dan semua ini memang salahku karena selalu berbohong denganmu, tentangku dan sebagainya.
namun itu semua menjadi pembelajaran yang amat baik buatku.
Pembelajaran buatku agar menjadi sosok yanng dewasa serta menjadi diri  sendiri
Belajar akan ketulusan dan belajar cara menghargai orang.

Akhir 2012 lalu komunikasi kita terakhir. Memang aku yang memutuskan menjauh darimu.
Kau tau kan? aku tak akan mungkin terus bertahan akan kenyataan yang sangat menyakitkan buatku.
Aku memang yang memulai permainan ini hingga akhirnya aku yang terjebak dalam permainanku sendiri.
Aku sadar kadang aku memang ingin merasakan bahagia itu. Dulu kau hanya datang saat kau butuh aku. Aku selalu menerima kehadiranmu meski aku sangat merasa kecewa dan sakit akan perlakuanmu namun aku selalu menyembunyikan itu semua dengan senyuman itu.

Kamu tau aku pernah merasakan sakit yang teramat sakit.
Kala itu kamu mengakhiri hubungan ini dan kau tinggalkanku demi DIA.
Aku meneriam karena aku sadar. Namun kau kembali lagi saat kau tak bersama dia aku memaafkanmu meski masih sangat terluka.

Aku pernah merasa sangat bahagia.
Saat kau menelphoneku dan ketika waktu itu kau berada di Balikpapan.
Saat itu aku bekerja Shiff siang dan aku pulang malam.
Kau bilang akan menjemputku bekerja. 
Awalnya  aku tak percaya.
Namun kamu membuktikannya.
Kau menjemputku tepat waktu saat kau pulang dari bandara kamu langsung menjemputku
Aku terharu.

Hubungan kita kembali membaik saat kau mengakui kesalahanmu dan tak akan mengulanginya lagi.
Namun aku kembali tersadar. Ini tak akan kembali emmabaik selamanya. 
KIta berbeda. Dengan sikapmu yang selalu berubah. Aku memutuskan untuk mundur dan aku berhak bahagia jelas bukan denganmu. Tapi dengan seseorang yang telah disiapkan Allah untukku

Sepenggal Rindu Untuk Kekasihku

Kau tau apa yang aku rasakan saat ini?
Rindu..
Aku merasakan itu...
Rindu melihat teduhnya wajahmu..
Rindu akan keramahan hingga manisnya senyummu..
Hampir satu tahun kau meninggalkanku..
Aku tau pasti kau telah berbahagia di Surga sana.
Aku sangat menyanyangimu..
Namun Allah lebih sayang hingga Allah memanggilmu lebih cepat.


Kadang rasa rindu ini selalu singgah.
Aku tak mampu menghapus semua itu.
Menghapus sejuta rindu untukmu
Rindu untuk berjumpa namun tak sanggup menyapa langsng.
Aku hanya mampu menyapamu lewat doa atau hanya sekedar menabur bunga diatas rumah barumu.

Maafkan aku hingga kini aku tak mengunjungimu.
Namun bukan berarti aku tak merindumu.
Aku selalu mendoakanmu disana

Kau tau hari ini hujan sangat deras.
Aku kembali teringat kala itu.
Kau pergi dari rumah dengan membawa tas ransel yang kau gendong.
Kau meninggalkan rumahmu demi mempertahankanku tanpa perduli dengan kondisimu yang sedang sakit.
Hingga keluargamu menyalahkanku karna aku kau muntah darah hingga keadaanmu drop dan kau dirawat dirumah sakit.
Namun kamu masih saja membelaku hingga berjalannya waktu keluargamu mampu menerimaku.

Kau tau hampir 4 tahun bersamamu namun harus berpisah untuk selamanya.
Rencana Indah kita tak akan bisa tercapai karena Allah punya rencana yang jauh lebih Indah untukmu dengan cara mengambilmu dariku.

Jumat, 15 April 2016

Senja Untukmu

Entah kapan terakhir aku menikmati senja kala itu bersamamu.
Duduk ditepi pantai ditemani hembusan angin
Desiran ombak yang menabrak batu karang yang menenagkan jiwa.
Suara tawa hingga air mata menemani kita.

Aku tak mampu meningatnya karena memang cukup lama kita tak menyapa senja.
Aku memang  sangat merindukan itu semua. Merindukanmu yang berada jauh disana.
Aku tau kau pasti melihatku dengan senyuman khasmu.
Aku merasakannya, meski aku tak melihat tawamu lagi.

Aku bahkan tak pernah menikmati senja itu lagi. Menikmati jingganya langit sampai berganti dengan cahaya bulan.
Aku tak ingin mengingatmu hingga air mata ini kembali menetes setelah kepergianmu satu tahun lalu untuk selamanya.


Apakah tubuh ini terlalu rapuh hingga belum mampu menggantikanmu dalam hati.
Menemaniku menikmati senja seperti denganmu.
Berlarian menyusuri bibir pantai, berpura-pura terjatuh agar kau menggendongku?

Aku sadar memang semua perlu waktu. Aku hanya tak ingin terluka. Terluka karna kepalsuan cinta lalu dan kau sembuhkan semua luka itu namun kau pergi untuk selamanya.

Senja..sampaikan rindu ini untuk dia disana. Katakan jika aku sangat merindukannya.

Apakah Ini

Wajah itu begitu teduh. Aku merasakan keteduhan itu meski aku baru berjumpa dengannya 3 kali.
Aku tak pernah menyapanya hanya mengetahui namanya saja. Namu kekaguman itu kadang membuat bayangannya selalu singgah dalam pikiran ini. Buka perasaan cinta karena aku belum merasakannya hanya sebatas kekaguman. Usianya memang masih sangat muda hanya selisih 2 tahun denganku namun kepintarannya hingga membuatnya menjadi orang penting untuk anak bangsa.

Aku tak berharap mengenalnya lebih dekat dan menjadi bagian istimewa darinya. Mengenalnya lebih dari cukup buatku. Aku percaya akan takdir, akan semua rencana sanga pencipta hingga aku tak akan pernah berharap lebih hingga akan membuat hati merasa kecewa hingga mengeluarkan airmata yang tak seharusnya.

Entah apakah aku masih bisa melihatnya untuk kedepan atau mungkin cukup untuk kemarin pertemuan terakhir dengannya karena tugas beliau sudah usai.

Namun kadang aku berfikir mengapa belakangan ini wajahnya selalu menghantui pikiranku?
Padahal aku sama sekali tak berniat memikirkannya?

Rabu, 13 April 2016

MELEPASKAN

"Belajarlah Melepaskan Jika Kamu tak Ingin Kecewa"

Satu dari nasihat kiai disalah satu pesantren di Tangerang. Melepaskan jika tak ingin kecewa jika berharap pada manusia. Belajar mengikhlaskan dan lihat apa rencana dari Allah.

Saya mencoba menerapkannya. Ketika kekagumanku akan seseorang hingga menumbuhkan benih cinta. Hubungan kita terasa dekat dengan sangat sering  bertukar pesan. Hingga suatu saat dia berhasil membuatku kecewa namun seketika aku tersadar. Ia karena tak seharusnya aku merasakan ini.