Kepergianmu tak lantas menghapus semua cerita yang pernah kita jalani selama hdupmu. Meski ragamu telah pergi namun seakan jiwamu selalu hadir dalam kehidupan ini. Sembilan bulan kepergianmu yang begitu cepat itu menyisakan kesedihan tersendiri dalam hidup ini. Sosok yang selalu membuat ceria ketika kesedihan singgah dan air mata membasahi pipi ini. Kamu seakan siap menjadikan pundakmu untuk menjadi sandaranku dan menghapus air mata yang membasai pipi ini. Namun semua seakan berhenti ketika kaulah yang membuatku menangis, menagisi kepergianmu yang tak akan bisa kembali. Namun hati ini sudah perlahan ikhlas menerima kepergianmu.
Banyak moment yang selalu aku rindukan selama kepergianmu. Kita memang ibarat dua mata sisi uang yang berbeda. Kamu yang smart sedang aku lola, itulah yang sering membuatmu menjahiliku, meski kadang merasa jengkel namun itulah yang aku rindukan. Saat kita bisa tertawa lepas. Saat kau siap kapanmu untuk menghiburku kapanku saat aku membutuhkanmu.
Namun terlepas dari itu, aku ingin menceritakan seseorang yang telah membuatku menyimpan perasaan yang berbeda. Dia adalah "A" orangnya sederhana, baik meski aku belum begitu lama mengenalnya. Aku dan dia memang terpisak jarak, dia di Jepara dan aku di Jakarta. Dua jarak yang menyulitkan kita untuk bertemu. Aku sangat ingin mengenalkannya denganmu, namun mungkin memang belum bisa untuk saat ini. Dia yang sibuk bekerja dan juga menyelesikan kuliahnya disana. Aku hanya bisa menceritakannya jika aku mengunjungimu. Dia itu kadang membuatku jengkel, kesel dan menangis. Aku pernah sanging keselnya menghapus kontak dari bbmku 2X. Mungkin lucu ya, pasti kamu tertawa dengan ini kalau mendengarnya langsung dan mulai mengejekku. Namun, yang namanya cinta pasti akan reda dengan sendirinya.
Aku memang tipe orang yang tidak bisa kesel dan sebel apalagi marah sama orang lama-lama. Apalagi terhadap orang yang spesial dalam hidupku. Kadang rasa rindu itu muncul. Ah sudahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar