Kamis, 05 November 2015

Perkenalanku Dengannya

Aku tak pernah tau jika perkenalanku dengannya akan sampai sekarang. Perkenalan yang sama sekali tak pernah terduga. Kita memang tinggal satu kota. Aku sedikit tertarik dengannya, agama yang bagus sehingga aku meninggalkan seseorang yang sedang dekat denganku. Bukan karena dia seutuhnya, tapi karena memang keputusanku untuk tidak ada ikatan dengan orang sebelum menikah. Dilain sisi orang aku sayang saat itu sama sekali tidak mendukung denganperubahanku. Ditambah dia yang selalu berbohong denganku. Aku memang dulu sangat dekat dengannya sebut saja Yoga, aku nyaman dan juga kita mempunyai hobi yang sama. Namun semua itu berubah disaat kita sangat jarang berkomunikasi. saya memaklumi jika dia adalah seorang santri disalah satu pesantren di Pati. Namun yang tidak aku sangka dia membohongiku dan ternyata dia memiliki seseorang lain selain diriku dan juga seorang santri disana. Disaat itu aku jatuh, rapuh, aku pikir dia akan selalu ada denganku, menyemangatiku disaat aku membangun mimpiku sebgai seorang penulis. Tapi nyatanya semua hanyalah dusta dia semata. Aku mulai menjauh darinya tanpa aku memberi penjelasan. Aku pikir dia akan berfikir dan merenunginya, namun nyatanya tidak.....

Setelah beberapa lama itu aku mengenal sosok yang menjadi motivasiku untuk berubah. Namanya sebut saja Andi namun aku sering memanggilnya Akhi, dia memanggilku ukhti. Ya jujur aku memang sangat tidak terbiasa dengan panggilan itu. Karena aku belum memiliki kepandaian agama, aku masih belajar. Tapi aku menerimanya. Dia sosok sederhana. Perkenalanku yang semakin dekat dengannya membuatku menyimpanrasa kagum dan seakan lama menjadi rasa suka. Aku suka denganya. Suka dengan kepribadiannya yang sederhana. Sampai suatu saat ini mengatakan dia mempunyai rasa denganku. Aku sedikit bahagia namun aku juga seakan merasa sedih. Mengapa aku sedih? aku seakan merasa berdosa. Namun bukankah seorang manusia memang wajar mempunyai rasa seperti itu? Tapi jika rasa itu untuk seseorang yang belum halal baginya?

Tapi lama semakin lama rasa kagum itu berubah menjadi sebuah rasa keewa yang teramat dalam. Kenapa? dia seakan berubah jauh dari sebelum aku mengenalnya. Dia beberapa kali membuatku keewa dan diam-diam menangis karena Andi. Ya dia orang yang berhasil membuatku menangis setelah sekian lama aku tak pernah menangis karena seorang lelaki. Seakan rasa sayang dan kagum kepadanya lenyap. Mungkin inilah teguran dari sang maha pencipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar